Mencari Teroris Sesungguhnya

Pasca-Bom Bali ‘perang opini’ dan tuding-menuding langsung merebak. Matori Abdul Djalil George W. Bush Alexander Downer mengarahkan telunjuknya ke Alqaeda dan Jamaah Islamiyah. DK-PBB mengeluarkan resolusi 1438 yg secara bulat mengutuk peristiwa Bali. Di tengah histeria antiterorisme pemerintah bergerak cepat mengutuk dan mengakui ada terorisme di Indonesia lalu mengumumkan akan mengajukan Perpu Antiterorisme. Laskar Jihad Ahlu Sunnah wal- Jamaah membubarkan diri. Lalu Habib Rizieq Shihab pemimpin FPI ditahan polisi setelah diperiksa sekitar 15 jam. Bagaimana ‘membaca’ berita-berita besar yg datang bertubi-tubi hanya dalam tempo sekitar tiga hari tersebut? Jika sebelumnya isu terorisme masih samar-samar Bom Bali telah mengubah semuanya. Hamzah Haz yg sebelumnya rajin mengumandangkan lafal “tidak ada teroris di Indonesia” terbungkam. “Teroris benar-benar ada di depan mata kita” kata Menkopolkam Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal jauh sebelumnya Yudhoyono juga sudah menyatakan GAM melakukan aksi-aksi teror di Aceh. Jadi ia sudah tahu sejak lama di Indonesia ada teroris. Jika sebelumnya banyak orang enggan bahkan menentang rencana RUU Antiterorisme Bom Bali telah mengubah semuanya. Koor setuju dan desakan berdatangan dari berbagai kalangan masyarakat agar RUU Antiteror segera disahkan. Karena dipastikan akan memakan waktu lama maka pemerintah melakukan gerak cepat dgn mengajukan Perpu Antiterorisme. Bom Bali sedang dalam proses mengubah semuanya. Bom Bali terbukti mampu ‘menyihir’ persepsi publik tentang terorisme. Bom Bali memang sangat dahsyat dan menghentak akal dan nurani banyak orang. Ungkapan marah kesal jengkel berhamburan. Bunga-bunga tanda simpati dan dukacita memenuhi halaman Kedubes Australia dan negara-negara Barat lain – fenomena yg belum pernah terjadi di depan Kedubes Palestina India Afghanistan dan sebagainya yg jutaan rakyatnya menjadi korban terorisme. Bisa dimaklumi krn korban Bom Bali kebetulan ‘warga dunia kelas satu’. Maka pelaku Bom Bali langsung dicap sebagai teroris. Sejumlah media menulis “Bom Bali merupakan peristiwa teror terbesar pasca-Tragedi WTC.” Benarkah begitu? Aksi teror AS di Afghanistan mulai 7 Oktober 2001 telah menewaskan lbh dari 5.200 warga Afghanistan. Sebagian besar sipil wanita dan anak-anak. Warga Afghan yg mengadakan pesta perkawinan pun sempat diteror oleh tentara AS tanpa pertanggungjawaban. Penduduk sipil Palestina yg tewas akibat aksi teror tentara Israel sejak 28 September 2000 hingga awal Oktober 2002 sudah mencapai 1.700 orang. Kini Bom Bali berpotensi ‘menyihir’ sejumlah akal sehat. Meski tentu saja sihir itu tak sedahsyat peristiwa WTC. Disamping sempat menggoncang sendi-sendi perekonomian AS sejumlah pihak menuai ‘berkah’ dari Tragedi WTC. Hanya selang tiga hari pasca WTC Kongres AS setujui pengucuran dana 40 milyar dolar US utk menghajar para teroris. Dana 40 milyar dolar AS itu adl dua kali lipat anggaran yg biasa diminta Bush tiap tahun. Kongres bahkan memberikan otoritas kepada Presiden Bush menggunakan segala kekuatan yg diperlukan utk melakukan aksi balas dendam. Tragedi WTC juga menjadi momentum dan legitimasi penting bagi Bush utk menyerang Afghanistan. Rakyat AS kompak mendukungnya. Survei yg dilakukan Washington Post menyatakan 91 persen rakyat AS mendukung langkah-langkah Bush. Hasil survei juga memperlihatkan kepopuleran Bush makin naik pasca tragedi WTC ini. Survei yg dilakukan Newsweek menunjukkan 71% warga AS mendukung dilakukannya serangan militer kepada basis-basis kaum teroris. Survei New York Times dan jaringan televisi CBS malah menunjukkan angka 85% setuju diadakannya aksi militer . Histeria pasca WTC segera dimanfaatkan oleh oleh Wakil Menhan AS Paul Wolfowitz utk melancarkan agenda para Hawkish. “Ini bukan sekedar masalah menangkap orang dan memintanya bertanggungjawab tapi melenyapkan persembunyian melenyapkan sistem pendukung dan mengakhiri negara-negara yg mensponsori terorisme” kata Wolfowitz. Dan Presiden Bush juga mengamininya. Enam hari pasca Tragedi WTC AS menyatakan akan bertempur habis-habisan. Dalam sebuah rapat di Camp David Bush menyatakan ia akan melakukan “tindakan sapu bersih dan berkelanjutan” bagi para pelaku aksi teror. “AS akan melakukan apa pun yg mungkin diambil utk memenangkan perang” tegas Bush. Tragedi WTC telah ‘menyihir’ begitu banyak akal sehat. Dunia lupa dan tidak peduli pada berbagai bentuk kebrutalan kesewenang-wenangan dan pelanggaran HAM. Dunia lupa bahwa AS adl pemilik senjata pemusnah massal terbesar di dunia. Menurut Richard Butler mantan ketua tim PBB utk pemeriksaan senjata di Irak AS juga berdiam diri atas kepemilikan 200 unit senjata nuklir Israel. Dalam laporannya tertanggal 16 Januari 2002 Human Right Report 2002 Human Right Watch yg berkedudukan di New York menyimpulkan AS dan pemerintahan George Walker Bush sebagai pelanggar HAM terbanyak di dunia. Bom Bali memang sangat memprihatinkan. Namun mestinya tidak perlu sampai “menyihir” logika sehat utk menghadapkan tiap peristiwa teror dgn Islam. Masalahnya seperti dikatakan Prof. Richard Bulliet dari University of Columbia orang AS suatu ketika akan meyakini tanpa perlu bukti apa pun bahwa ancaman teroris selalu datang dari kaum Muslim fanatik. “We at some point are going to reach a threshold where people no longer need evidence to believe in a generic terrorist threat from religious Muslim fanatics” kata Bulliet. Histeria anti-Muslim bisa jadi akan selalu muncul tiap terjadi aksi-aksi teror terhadap warga Barat. Pasca pengeboman WTC tahun 1993 polling di Harian New York Times menunjukkan 50 persen responden menyatakan “Muslim itu anti Barat dan anti-Amerika.” Padahal sebagian besar teror di AS justru dilakukan oleh orang non-Muslim. Catatan FBI selama periode 1982-1992 menunjukkan 72 serangan oleh orang Puerto Rico 23 serangan oleh kelompok-kelompok kiri 16 serangan oleh kelompok Yahudi 12 kali serangan oleh orang-orang Kuba anti Castro dan 6 kali serangan oleh kelompok sayap kanan. Data yg sama dijumpai pada serangan anti-Amerika yg terjadi di luar AS. Tahun 1994 terjadi 44 kali serangan anti-Amerika di Amerika Latin 8 serangan di Timur Tengah 5 serangan di Asia 5 di Eropa Barat dan 4 kali di Afrika. Gerges mencatat Muslim AS berulang kali menjadi sasaran serangan menyusul terjadinya suatu peristiwa teror terhadap warga AS. Tiga hari setelah pengeboman Oklahoma City tahun 1995 terjadi lbh dari 200 serangan terhadap Muslim Amerika. Kasus bom Oklahoma menunjukkan bayangan negatif yg laten yg mewarnai pandangan masyarakat AS terhadap Islam dan Muslim. Padahal pelaku kasus Oklahoma adl orang AS sendiri. Akibat langsung dari pengeboman Oklahoma City adl diluncurkannya RUU Antiterorisme tahun 1995 yg disetujui oleh Kongres dan Senat dan kemudian disahkan oleh Presiden Clinton. Salah satu klausulnya mengizinkan pemerintah AS utk menggunakan bukti-bukti dari sumber-sumber rahasia dalam proses pendeportasian orang asing yg dicurigai terlibat terorisme tanpa harus mengungkap sumber rahasia tersebut. Dalam Perpu Antiterorisme yg dikeluarkan pemerintah Indonesia “sumber-sumber rahasia” dapat dijadikan sebagai bukti permulaan dalam penyidikan tindak pidana terorisme. Di samping persoalan teknis yuridis – seperti masih terdapatnya sejumlah pasal karet dalam draft RUU Antiterorisme – persoalan yg lbh mendasar adl hegemoni wacana terorisme oleh AS. Hingga kini terbukti pemerintah Indonesia tidak berani menetapkan pejabat-pejabat Israel dan pendukungnya sebagai teroris. Dalam kondisi seperti ini Perpu atau UU Antiterorisme akan lbh mungkin digunakan utk memburu teroris versi AS. Apalagi jika Perpu ini dikeluarkan secara terburu-buru dgn memanfaatkan momentum ’sihir’ Bom Bali yg masih belum hilang sepenuhnya. Oleh Adian Husaini MA Analis Berita di Radio Moslem FM Jakarta.Sumber Republika Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s