Ojek Ke Surga (Bagian I)

Ojek Ke Surga (Bagian I)
Ronny P. Sasmita

 

Kukira ada yang tak beres dengan isi kepala kakak angkatku yang satu itu. Aku ini tukang ojek. Aku cuma anak pinggiran, sekedar lulus SMA. Itupun jika aku tak salah. Lulus SMA dengan tertatih-tatih.

Kemalasanku untuk menamatkan sekolah berbanding lurus dengan rasa enggan untuk menambah beban hidup orang tuaku. Waktu itu kupikir, berhenti di tengah jalan lebih baik ketimbang harus membuat kepala bapak pusing tujuh keliling memikirkan biaya tetek bengek di bangku sekolah. Belum pula dua adikku yang saban hari tak kurang dari belasan kali menangis karena tak satupun permintaan mereka terkabul oleh bapak.

Permintaan-permintaan yang saban hari diajukan, saban hari pula tak berjawab nyata. Walaupun aku paham belaka, tidak ada secuilpun niat bapak untuk menolak kehendak anak-anaknya, baik dalam urusan permintaan ingin memiliki mainan, jalan-jalan atau sekedar jajan-janjanan kaki lima dan warung kampung. Namun, sakunyalah yang memaksa untuk tidak bergeming terhadap keinginan-keinginan cengeng tersebut.

Lalu mengapa dia, kakak angkatku, yang memang terpelajar itu malah nyeleneh mengatakan bahwa aku benar-benar telah menjadi seseorang yang berharga dan membuat pekerjaan apapun yang aku kerjakan sekonyong-konyong jadi mulia. Selama ini, apa yang terlontar dari mulutnya hampir semua menjadi petuah bagiku.

Keterpelajarannya tidak tertutup bagi kawan-kawan sepergaulanku yang kebanyakan cuma tamatan SMP atau SMA, begitu juga dengan pergaulannya. Mulai dari tukang ojek, pedagang keliling, pedagang Pasar Cileunyi, pengangguran, santri-santri pesantren atau siapa saja. Tak berpantang baginya dalam berteman dan berdiskusi.

Tapi pernyataannya kali ini membuatku merasa anti klimak dalam menghargainya. Walau dari mimik wajah atau intonasi bicaranya waktu itu, tak sedikitpun kesan menghina atau menyindir. Tapi ketimbang memaknainya dengan pujian, hatiku tampaknya lebih memilih itu sebagai sebuah sindiran halus tentang pekerjaanku. Sebagai tukang ojek, pastilah memang jauh pamor jika dibanding dengan profesinya sekarang di perusahaan keuangan terkemuka di Jakarta itu.

Siapa yang tidak kenal kakak angkatku. Lelaki terdidik, lulusan perguruan tinggi negeri ternama. Kampusnya cuma bersebelahan kecamatan dengan kecamatan tempatku tinggal. Siapa yang tak kenal kawasan pendidikan di daerah Jawa Barat ini. Jatinangor namanya.

Dia hampir enam tahun berpesantren di sana. Selain punya rumah yang cukup megah di kota Bandung, orang tuanya juga punya rumah di kecamatanku. Tak jauh dari markas ojek tempatku mangkal biasanya, pertigaan Pasar Cileunyi. Tapi kakak angkatku yang satu itu, ketika masih kuliah, malah memilih nge-kost di dekat kampusnya. Padahal, Cileunyi cuma satu kilometer dari kampus tempat dia kuliah.

Mengapa dia tidak memilih tinggal di rumah orangtuanya yang sejengkal dari pangkalan ojeku itu? Itulah unik dan anehnya dia. Tapi aku malah memilih berpendapat bahwa pernyataan dia kali ini lebih aneh dari apapun yang dia lakukan dan katakan semenjak kami saling kenal dulu.

Sekali-kali hati ini nyeletuk, “Ini tak lain dan tak bukan adalah penghinaan. Mentang-mentang anak orang berada, kerja di tempat yang bermartabat, seenaknya mengatakan profesiku dalam logika terbalik seperti itu. “Huh!” gumamku pelan sekali waktu.

Sempat aku sedikit kasar mengirim SMS padanya beberapa hari setelah ucapan itu keluar dari mulutnya. Kukatakan aku sangat kecewa dengannya. Dia yang kuhormati selama ini, kini seperti hilang begitu saja dalam jagad pemikiran tinggiku. Pesan itu tiba-tiba saja ingin kukirim karena setelah berkali-kali aku tanya maksud pernyataannya iut. Jawabannya kala itu terkesan seperti bertele-tele.

Kubilang dalam SMS waktu itu.

“Apa maksud pernyataan itu? Tolong, Abang jangan menyindir pekerjaan saya. Walaupun tukang ojek, saya masih punya harga diri. Saya tidak pernah memakan keringat orang lain. Bahkan, saya tidak pernah meminta lebih ke pelanggan saya selain tarif ojek yang telah disepakati. Bahkan, tambahan-tambahan kecil yang saya anggap melebihi jasa saya, tak pernah saya kantongi. Sekali lagi saya ingatkan, jangan menyindir profesi saya”. 

Begitulah bunyi SMS itu. Semula memang aku agak berat untuk mengirimnya, takut dia tersinggung. Tapi demi sebuah kepastian, aku memilih untuk mengirimkan saja.

Beberapa saat berselang, dia memilih untuk tidak membalas pesanku. Tapi terlihat panggilan masuk di layar ponsel lusuhku. Kuamati nomornya. Itu nomor kantor kakak angkatku itu.

Dia bilang padaku, “Sir, saya tidak pernah menyindir Yasir, apalagi profesi tukang ojek. Saya saban hari naik ojekmu, bukan? Jika saya sedang berada di Cileunyi, baik untuk situasi biasa ataupun situasi genting. Kau memilih jadi apapun, semua orang selalu percaya bahwa kau akan menjalankannya dengan sungguh-sungguh.”

“Sampai detik ini, kau menjadi tukang ojek. Sebelumnya, kau pernah menjajal sebagai petani, penjual bubur ayam, pedagang batik, dan banyak lagi lainnya. Kau tidak pernah menganggur. Kau jalani semua semampu yang kau bisa biar anak dan istrimu bisa tertawa. Biar mereka tidak lagi seperti adik-adikmu dulu.”

“Kau tidak pernah menyalahkan nasib dan orang tua kenapa tidak mengirimmu ke bangku kuliah seperti anak orang lain. Bukankah itu luar biasa. Dan selama yang kutahu, semua pekerjaan yang pernah kau lakukan, tak pernah ada berita buruk dari orang-orang yang berkepentingan dengan pekerjaan itu. Bahkan pujian-pujian belaka yang kudengar dari semuanya tentang hasil kinerjamu.”

“Si Resti, teman kuliahku dulu, kala itu selalu ketagihan dengan bubur ayammu. Rasanya melebihi harganya, begitu komentarnya. Dan batik yang kubeli darimu tiga tahun lalu, sampai hari ini selalu menjadi batik favoritku, Sir. Dan satu lagi, sebelum aku berkata seperti itu tempo hari, ojekmulah yang mengantarkanku ke mulut Bus Primajasa Jakarta –Bandung, bukan? Lalu, mengapa aku harus menyindir-nyindir profesi tukang ojek, Sir?”

Aku terpaku mendengar pembelaannya yang panjang itu. Sepertinya, dia begitu akrab dan telah lama diam-diam mempelajari seluk-beluk kehidupanku.

Sebenarnya, bila kupikir-pikir, apa yang diucapkannya benar juga. Belum ada sebenarnya sedikitpun bukti yang menunjukan bahwa kakak angkatku ini sedang menyindir atau merendahkanku. Bahkan pernah memang satu waktu dulu, sebelum dia ditarik ke kantor pusat di Jakarta, dia berkata padaku kalau dia salut dan bangga punya adik angkat sepertiku. Dia mengatakan padaku waktu itu begini

“Sir, aku iri sama kamu,” katanya pelan diiringi senyum khas yang tak pernah kulupa.

Eleuh-eleuh, iri dari segi yang mana, Bang,” jawabku sambil bingung.

“Dari sudut topik pembicaraaan manapun, seharusnya saya yang iri ke Abang. Abang terlahir dalam keluarga yang berkecukupan. Baru diumumkan lulus UMPTN saja, satu sedan terbaru sudah menunggu untuk teman kuliah. Rumah tinggal membuat banyak orang iri. Bahkan, rumah yang dekat tempat tinggalku itu saja selalu membuat decak kagum semua yang lewat. Orang tua yang terdidik, kakak-kakak yang sukses dan terdidik pula. Lalu, sisi mana lagi yang bisa membuat Abang harus mengatakan iri pada saya, si Yasir tukang ojek dan cuma tamatan SMA ini?” balasku berpanjang lebar dengan ekspresi serius ditambah bingung tentunya.

“Ya iri aja. Kau terlahir dengan segudang motivasi Sir.”

“Kau bisa memilih menjadi dirimu. Bahkan, kau lebih berani untuk memutuskan segera menikah saat kau telah merasa menemukan dambaan hatimu, tanpa harus berpikir apapun. Kutau karena kau sendiri merasa mampu melakukan apapun untuk membahagiakan banyak orang, setidaknya anak dan istrimu serta ibu dan adik-adikmu itu,” dia membalas dengan berpanjang lebar pula.

“Kau lakukan apa saja supaya anakmu bisa tersenyum dan istrimu bisa menikmati indahnya menjadi seorang ibu dari anaknya dan istri dari suaminya. Meski sekarang kau tukang ojek disebut oleh orang lain, bagiku selama ini kau adalah inspirasi. Oasis di tengah gurun pasir. Kau jalankan hidup ini seperti apa yang diharapkan oleh sang penitip roh.”

“Kau lakukan pekerjaan apa saja dengan cara yang terhormat. Aku selama ini banyak memilih diam jika mendengar ceritamu. Ilmuku terasa cetek tak berlubuk. Sedangkan aku tetap hanya seperti ini. Gamang dengan segala keputusan, muak dengan segala keadaan, walaupun tak pernah ku tampakan,” dia tampak serius mencurahkan isi hatinya yang mungkin telah lama ingin dia ungkapkan.

“Bagi saya, hidup memang begini, Bang. Kalau tidak dijalani seadanya, maka akan jadi korban mimpi-mimpi semu,” jawabku datar.

Dia tersenyum sumringah bangga yang semakin bertambah terlihat jelas dari wajahnya. Namun aku tetap memilih tak mau mengerti. Sejak itu, aku sering bertanya, ada yang tak beres dengan orang-orang yang semakin hari semakin banyak melahap ilmu. Bukankah semestinya mereka berpikir untuk hal-hal yang lebih besar, seperti kemajuan negara dan masyarakat atau kemajuan bisnis perusahaan.

Mengapa kakakku, yang kata orang-orang sudah tergolong kalangan intelektual ini, malah memperhatikan hal yang remeh-temeh seperti diriku ini. Apa artinya profesi tukang ojek di mata orang terdidik dan berada seperti dia? Sejak itulah aku sering berpikir ada yang tidak beres dengan otaknya. Tapi apa? Aku tak bisa menemukan pembenaran prasangkaku itu.

Dan kali ini, dia malah mengatakan profesiku mulia dan apapun yang aku kerjakan akan menjadi profesi mulia. Bunyinya memang memuji, tapi hati ini selalu tersinggung rasanya. Entah iri dengan profesinya atau sudah jenuh dengan pekerjaan yang levelnya itu-itu saja. Atau, barangkali, aku hanya sedang kurang bagus perasaan saja alias lagi kurang mood.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s